Jumat, September 09, 2005

Hendropriyono AL Zaytun Dipolisikan

Sumber : metrobalikpapan

JAKARTA-Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono diadukan ke Mabes Polri oleh salah satu aktivis LSM Islam Al Chaidar kemarin. Hendropriyono dituding telah melakukan penghinaan dan melakukan ancaman kepada semua pihak yang menyudutkan Ma'had (Ponpes) Al Zyatun di Indramayu, Jabar. Al Chaidar datang ke Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri sekitar pukul 13.00 WIB.

Pernyataan Hendropriyono yang dianggap menghina dan mengancam Al Chaidar adalah ketika mantan Pangdam jaya itu mengatakan, akan menghajar siapa saja yang menghujat dan mengkritisi pondok pesantren Al Zaytun.

Hendro mengatakan hal tersebut dalam pidato peresmian pemancangan Gedung Pembelajaran Haji Ahmad Soekarno di Ma'had Al Zaytun pada 13-14 Mei 2003 yang lalu. Saat itu Hendro hadir mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Dia (Hendro, Red) juga menyatakan buku-buku yang mengkritisi Al Zaytun adalah buku iblis. Ini adalah pernyataan yang mengerikan dan membahayakan," ungkap Al Chaidar.

Selama ini Al Chaidar termasuk salah satu tokoh yang cukup intens mengkritisi keberadaan Ponpes Al-Zyatun. Dia juga menerbitkan sejumlah buku yang isinya senada, mengritik ponpes tersebut. Menurut Al-Chaidar, ancaman tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk teror.

Buku yang ditulis oleh Al Chaidar dua di antaranya Serial Musuh-Musuh Darul Islam; dan Sepak Terjang Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca SM Kartoesoewiryo. Buku itu diterbitkan oleh Madani Press pada Januari 2000. "Sebagai penulis buku saya merasa tidak nyaman dan jiwa saya terancam dalam berpikir sehari-hari," katanya.

Ucapan itu dianggap tidak layak diucapkan oleh seorang kepala BIN. Selain mengadukan, Al Chaidar meminta Hendro untuk menarik ucapannya tersebut. Al Chaidar memberi waktu 3 hari dari tanggal 28 November kemarin. ''Ucapan tersebut tidak mencerminkan jiwa seorang demokrat,'' katanya.

Selain itu, Chaidar mengaku juga mendapatkan teror yang lebih ngeri. Dirinya pernah dua kali ditembak saat sedang berada di kantor lama SIKAT (Solidaritas Korban Abu Totok) di Jl. Arab, Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Telepon yang bernada mengancam juga selalu diterima oleh Al Chaidar dan teman-temannya.

Lalu kenapa baru dilaporkan kemarin? Sementara Hendro mengucapkan pada Mei 2003 yang lalu? Al Chaidar beralasan baru menemukan bukti-bukti berupa tayangan pidato Hendro tersebut beberapa waktu yang lalu.

Buku-buku lain yang dianggap memojokan Al Zaytun menurut Al Chaidar adalah Membongkar Gerakan Sesat NII di Balik Pesantren Mewah Al Zaytun; Pesantren Al Zaytun Sesat? Investigasi Mega Proyek dalam Gerakan NII yang keduanya ditulis oleh Umar Abduh. Sedangkan buku berjudul Bunker Al Zaytun, Fakta Kesesatan Tafsir NII Panji Gumilang ditulis oleh M Amin Djamaludin. Dan buku berjudul Al Zaytun Gate Dajjal Indonesia Membangun Negara Impian Iblis ditulis oleh Umar Abduh dan tim SIKAT.

Padahal penulisan buku tersebut, kata Chaidar, mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh ormas Islam dan LSM. Beberapa penelitian yang digunakan acuan menurut Al Chaidar adalah maklumat dan fatwa Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) dan hasil penelitian Ma'had Al Zaytun Haurgeulis Indramayu yang disusun team peneliti Ma'had Al Zaytu MUI Pusat. ''Selain itu juga mengacu dengan dan pernyataan Pemerintah Malaysia pada Juli 2002 yang melarang pengiriman santri negara tersebut ke Al Zaytun,'' jelas Chaidar.

Untuk memperkuat laporan tersebut Al Chaidar siap menghadirkan beberapa saksi di antaranya mantan presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, team peneliti Al Zaytun dari MUI Mustafa Ya'kub, direktur Imparsial Munir dan beberapa tokoh Islam lainnya.

"Gus Dur siap membantu, saat saya berkunjung ke kediamannya pada lebaran kemarin. Tapi baru bantuan secara lisan," kata Al Chaidar.

Selain melaporkan Hendro, Al Chaidar juga akan melaporkan Presiden Media Group Surya Paloh yang juga salah satu capres konvensi Partai Golkar. Surya Paloh juga dianggap telah melakukan ancaman dengan ucapannya. Surya pernah mengatakan siapa saja yang menghujat Al Zaytun akan berhadap dengan dia. "Sebagai tokoh pers dia tidak pantas mengatakan itu," ungkap Al Chaidar. Metro Teve juga akan dilaporkan pada kasus yang sama. Namun Al Chaidar akan membuka pintu perdamaian dengan Surya Paloh dan Metro Teve.

Sedangkan Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Soenarko DA mengaku belum tahu mengenai laporan itu. Polri berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut. "Saya belum tahu laporan itu," katanya singkat.