Minggu, Desember 05, 2004

Al Zaytun : Keajaiban di Padang Tandus

Tak bisa disangkal, bangunan pondok pesantren Al-Zaytun yang terletak di desa Gantar, Mekar Jaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat, merupakan pondok pesantren termegah saat ini. Demikian megahnya, sampai-sampai banyak masyarakat Jakarta khususnya, yang telah terbiasa dengan keberadaan kawasan elite dan modern pun masih tetap terkesima, [1] terkagum-kagum saat mereka berbondong-bondong meninjau dan melihat dari dekat pesantren yang termegah serta terbesar di Asia Tenggara itu.

Untuk sarana dan prasarana pendidikan, dialokasikan kurang lebih 16,5 persen atau sekitar 200 hektar dari total luas tanah Yayasan Pesantren Indonesia yang konon mencapai 1.200 hektar lebih. Sedang lahan seluas 1.000 hektar dialokasikan sebagai ruang terbuka yang sekaligus sebagai lahan pendukung bagi Ma'had Al-Zaytun.

Setiap pengunjung yang berwisata ke Ma'had Al Zaytun untuk pertama kalinya hampir pasti akan menyimpulkan, inilah gambaran dan wujud sebuah pesantren yang tidak saja terpadu dan megah, juga sangat menjanjikan bagi masa depan Islam wal muslimin di Indonesia. Nama-nama sahabat Nabi SAW (Khulafaur Rasyidin), diabadikan pada berbagai gedung, seperti Gedung Pembelajaran unit I diberi nama Abu Bakar Ash Shidiq yang menempati areal seluas 10.000 meter persegi dan memiliki 48 lokal kelas dengan kapasitas 1.500 siswa. Gedung Pembelajaran unit II diberi nama Umar Ibnul Khaththab, me-nempati areal seluas 12.500 meter persegi, memiliki jumlah lokal dan kapasitas 1.700 siswa.

Sedangkan untuk gedung asrama, baik untuk santri putra maupun putri, diberi nama Al Musthafa, yang letaknya ber-hadapan dan dipisahkan dengan bangunan masjid utama. Gedung asrama santri merupakan suatu blok yang pada masing-masing blok menempati areal tanah seluas 22.000 meter persegi, yang terdiri dari 12 unit bangunan berlantai lima, dan memiliki 170 unit kamar tidur. Satu unit kamar tidur memiliki luas 72 meter persegi dengan kapasitas 10 santri, dan dilengkapi dengan lima tempat tidur susun berikut lima lemari pakaian, serta dilengkapi tiga kamar mandi dan wastafel. Sedangkan pada ruang belajar disediakan fasilitas meja kursi belajar dan rak buku perpustakaan.

Kelengkapan lain dari gedung asrama adalah disediakannya laboratorium komputer, laboratorium bahasa dan perpustakaan. Fasilitas pendukung asrama seperti ruang makan, kitchen dan laundry disediakan dalam bentuk ruang bangunan rumah makan, yang mampu melayani sekitar 1.700 santri. Kitchen dan laundry [2] masing-masing dalam bentuk bangunan yang luasnya 1.200 meter persegi, dan dilengkapi dengan peralatan modern.

Masjid utama yang teletak di antara blok asrama santri putra dan putri, berdiri di atas lokasi dengan luas lahan sekitar 6,5 hektar. Bangunan utama terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk balai sidang, lantai kedua untuk perpustakaan besar, dan lantai tiga untuk mushalla yang kapasitasnya mampu menampung sebanyak 26.000 jamaah. Namun untuk tahap pertama Al-Zaytun membangun masjid I'dadi (Masjid Persiapan) seluas 3.600 meter persegi, dengan nama Al-Hayat, yang diambil dari nama salah seorang Camat setempat, M. Hayat. Kemungkinan diabadikannya nama itu untuk menghormati dan sekaligus mengikat keterlibatan emosi serta dukungan aparat garis depan Pemda-Muspida-Muspika setempat kepada Al-Zaytun. Dan kini masjid utama pun sedang dalam pembangunan, yang nantinya akan menjadi sebuah mesjid megah dengan seribu satu pintu dan diberi nama masjid Rahmatan lil 'Alamin. [3]

Sarana penunjang pendidikan yang lain, di antara alokasi lahan seluas 200 hektar, adalah untuk bangunan pendidikan sebanyak 26 hektar, dipersiapkan khusus untuk bangunan sarana olahraga. Pada bagian blok timur dialokasikan sebanyak 6,5 hektar untuk dibangun stadion Palagan Agung, yang dilengkapi dengan tribune (semacam stadion madya Senayan, tetapi dilengkapi dengan lapangan sepak bola), dan juga dibangun kolam renang khusus untuk santri putra dan putri secara terpisah. Gedung olahraga tertutup untuk santri putra dan putri secara terpisah pula dan dibangun juga gedung kesenian.

Sedangkan di bagian blok barat dialokasikan sama dengan blok timur sebanyak 6,5 hektar yang direncanakan untuk dibuat empat buah lapangan sepak bola, dua lapangan hockey, empat lapangan bola basket serta delapan lapangan bola volley. Adapun untuk blok utara dialokasikan seluas 13 hektar yang khusus direncanakan nantinya untuk dibangun sejumlah sarana olahraga yang lebih lengkap dan bertaraf internasional, baik ukuran maupun kualitas materialnya, diantaranya stadion futuristik yang mampu menampung penonton 100.000 orang lebih, juga sarana untuk seluruh jenis olahraga. Suatu rencana yang obsesif untuk mendukung citra pesantren Al-Zaytun, apalagi adanya azam yang kuat untuk mengadakan dan menyelenggarakan Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni Santri) tahun 2001, dengan mengundang seluruh pesantren di Indonesia. [4]
Sarana pendukung program pendidikan dan kehidupan pesantren lain yang telah ada diorientasikan kepada pengelolaan lingkungan hidup serta pengembangannya, diantaranya adalah dengan membangun peternakan, perikanan dan pertanian yang dititik-beratkan pada sinergi penyehatan lingkungan sekaligus meraih berbagai keuntungan.
Menurut publikasi yang dilakukan pihak Al-Zaytun, bumi Al-Zaytun yang sebelumnya kering dan tandus, [5] kini ditumbuhi segala jenis tanaman, termasuk pohon Tin, Korma dan Zaytun, yang biasanya hanya bisa tumbuh di negeri yang suhu dan keadaan tanahnya sama dengan negeri-negeri Arab. Pohon Tiin yang diwakafkan oleh pewakif dari Yordania dan Palestina, menurut publikasi mereka, konon hanya dalam tempo 40 hari semenjak ditancapkan akarnya di bumi Al-Zaytun ternyata langsung berputik. Padahal di negerinya sendiri belum tentu bisa secepat itu.

Yayasan Pesantren Indonesia ini dibentuk dan berdiri secara resmi baru sekitar delapan tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1993 atau tanggal 10 Dzulhijjah 1413 H, dengan akte pendirian tertanggal 25 Januari 1994 bernomor 61 pada Notaris Ny. li Rokayah Sulaiman, SH. Meski tergolong baru, "prestasinya" terkesan spektakuler, bahkan sangat luar biasa untuk ukuran sebuah yayasan ummat Islam pada umumnya.
Kemunculan Yayasan Pesantren Indonesia sendiri terkesan tiba-tiba, begitu juga dengan kemampuan mereka menghimpun dana dalam jumlah besar dan dalam tempo yang relatif singkat, mengundang keheranan tersendiri. Apalagi, sampai saat ini kemampuan ekonomi ummat Islam khususnya masih carut-marut, akibat politik peminggiran yang dilakukan oleh rezim Orde Baru terhadap ummat Islam.

Sampai saat ini rasanya belum ada satupun lembaga kemasyarakatan (ormas) Islam yang memiliki kemampuan finansial memadai dan siap untuk menguasai lahan seluas lebih dari seribu hektar. Disamping itu, persyaratan untuk menguasai lahan dalam jumlah ribuan hektar termasuk sangat rumit serta ketat. Pemerintah daerah selalu mengaitkannya dengan izin peruntukan, sehingga hanya kalangan developer dan konglomerat sajalah yang bisa memenuhi persyaratan tersebut.

Ternyata, YPI (Yayasan Pesantren Indonesia), sebuah yayasan Muslim "partikulir" yang secara formal tidak memiliki kaitan dengan institusi yang lebih kuat seperti yayasan milik Keluarga Cendana (Soeharto) [6], yayasan KORPRI, ataupun ICMI [7] dan yang sejenis, dan tidak pula dengan yayasan-yayasan masyarakat Muslim yang ada sebelumnya, ternyata bisa mengusasi lahan seluas ribuan hektar.

Secara formal, YPI (Ma'had Al-Zaytun) tidak punya hubungan dengan --katakanlah-- ICMI dan sebagainya. Namun menurut harian Republika edisi Ramadlan, Desember tahun 2000, dikabarkan bahwa ICMI di bawah kepemimpinan Adi Sasono dan segenap pengurusnya menggelar kegiatan dan kajian bersama dengan Syaikh al-Ma'had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang di Pesantren Al-Zaytun, Haurgeulis Indiamayu. Demikian halnya para tokoh Golkar senior seperti, Harmoko, Abdul Ghafur, Isma'il Shaleh, Slamet Efendi Yusuf dan lain-lain.

Meski begitu, pihak Al-Zaytun tetap saja menyangkal. AS Panji Gumilang Syaikh Al-Ma'had Al-Zaytun saat peresmian pesantren ini pernah menyatakan: "Kami tidak ada hubungan dengan keluarga Cendana atau konglomerat, yang jelas dengan idzin Allah semua bisa berjalan, karena banyak hamba Allah yang mewakafkan tanah, bangunan dan ternaknya di sini."

Yang jelas, YPI dengan Al-Zaytunnya adalah sebuah yayasan yang pengurusnya adalah orang-orang yang bersahaja dan berlatar belakang bersahaja pula. Namun bila tiba-tiba mereka mampu menguasai lahan seluas 1.200 hektar, dengan alasan merupakan tanah waqaf sekalipun, tetap mengundang tanda tanya, dan rasanya mustahil bila tidak punya akses ke institusi yang lebih kuat (minimal secara politis).

[1] Hendropriyono semasih menjabat sebagai Menteri Koperasi dan Transmigrasi pernah meninjau Al-Zaytun dengan mengendarai pesawat sendiri (tanpa co-pilot dan ajudan). Di atas langit Al-Zaytun, Hendropriyono seperti terkesima, ia tidak yakin bahwa bangunan megah di bawahnya adalah pesantren Al-Zaytun, tempat dimana seharusnya ia mendarat. Akibatnya ia kebablasan hingga Cirebon. Kisah ini disampaikan KH A. Kholil Ridwan, Ketua BKSPPI, pada acara “Peluncuran Perdana dan Bedah Buku Pesantren Al-Zaytun Sesat” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22 Juni 2001.
[2] Pelayanan laundry tidak gratis tetapi dikenakan bayaran, demikian juga dengan pelayanan lainnya seperti kesehatan dan sebagainya tidak ada yang gratis.
[3] Ketika penulis melakukan investigasi langsung ke lokasi, saat itu masih berbentuk pondasi bangunan masjid saja, luas tanahnya pun hanya satu hektar, namun akan dibangun sampai 6 lantai tidak seperti yang dipublikasikan lewat media yang dimilikinya, Majalah Al-Zaytun.
[4] POSPENAS I (Pekan Olahraga & Seni Pondok Pesantren Nasional) berlangsung 28 Oktober hingga 3 November 2001 di Ma’had Al-Zaytun, yang mendapat reaksi penolakan dari komunitas pondok pesantren. Penolakan itu diwujudkan dalam bentuk membuat “Pernyataan Bersama Komunitas Pondok Pesantren” yang ditandatangani oleh 20 tokoh Pondok Pesantren nasonal.
[5] Areal yang sekarang ditempati bangunan Ma’had Al-Zaytun (200 ha) sebelumnya adalah lahan produktif. Total lahan produktif yang dikuasai Al-Zaytun di Desa Mekar Jaya menurut penjelasan BPD (Badan Perwakilan Desa) Mekar Jaya adalah seluas 650 hektar
[6] Namun dalam kenyataannya Soeharto di saat masih aktif sebagai Presiden RI tercatat ikut pula memberikan sumbangan beberapa ekor sapi kepada Al Zaytun.
[7] Padahal sebagaimana pengakuan Adi Sasono yang juga dibenarkan oleh komunitas Al Zaytun, Abu Toto sudah sering mondar-mandir di Gedung BPPT sejak tahun 1996, ketika berkepentingan untuk menjelaskan rencana Ma'had Al Zaytun kepada dirinya saat itu. Baca Majalah Bulanan Al-Zaytun edisi 12-2000 hal. 113.